• Jantung Terpadu

    Memberikan pelayanan pemeriksaaan jantung secara menyeluruh

  • Lab 24 Jam

    Memberikan dukungan keakuratan data pemeriksaan

  • IGD 24 Jam

    Memberikan pelayanan yang selalu siap dibutuhkan dalam keaadaan emergency

  • Klinik Ingin Anak

    Membantu mendapatkan buah hati dengan pemeriksaan yang mendalam dan menyeluruh

  • Klinik Kecantikan

    Membantu untuk mendapatkan kulit yang cantik dan sehat

  • USG 4 Dimensi

    Membantu dalam pemeriksaan perkembangan janin buah hati dalam kandungan secara detail

Link

                    HasilTest2017   APLICARE 
 INFORMASI KETERSEDIAAN KAMAR RAWAT INAP HUB (0272) 322252 EXT 334, DILAYANI SAMPAI JAM 20.00 WIB

 

 

PENGALAMAN BERHARGA

KEBERHASILAN PELAKSANAAN PROGRAM PMBA DAN 10 LMKM DI KABUPATEN KLATEN

DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN ASI EKSKLUSIF DI KABUPATEN KLATEN

Oleh

dr. CHATIDJAH ALAYDRUS, SpA, IBCLC

(Anggota IDAI dan PERINASIA)

 

WHO/UNICEF (2002) memberikan rekomendasi tentang pola pemberian makan terbaik bagi bayi

dan anak sampai usia 2 tahun, dan menuangkannya dalam Global Strategy for Infant

and Young Child Feeding (IYCF). Rekomendasi tersebut terdiri dari:

 

1) Memberi kesempatan pada bayi untuk melakukan inisiasi menyusu dini dalam

1 jam setelah lahir; 2) Menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai umur 6 bulan;

3) Mulai memberi makanan pendamping ASI yang bergizi sejak bayi berusia 6 bulan; dan

4) Meneruskan menyusui sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.

Pemerintah Indonesia menindaklanjuti rekomendasi tersebut dengan menerbitkan Surat Keputusan

Menteri Kesehatan nomor: 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI)

secara eksklusif pada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan serta menganjurkan semua tenaga kesehatan agar

memasyarakatkan SK tersebut kepada ibu yang baru melahirkan. (2) Menurut UNICEF cakupan

ASI eksklusif enam bulan di Indonesia di bawah rata-rata dunia, yaitu 38%. Survey Demografi

dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa Jumlah bayi usia enam bulan yang mendapatkan

ASI eksklusif menurun dari 1997, 2002 dan 2007, masing-masing 7,9%, 7,8%, serta 7,2%.

Sebaliknya pemberian susu formula meningkat dari 16,7% pada 2002 menjadi 27,9% pada 2007.

Bahkan pada tahun 2007 diketahui praktek pemberian makanan dalam 3 hari pertama persalinan lebih banyak

dilakukan di fasilitas kesehatan dengan pertolongan tenaga kesehatan professional. Untuk meningkatkan

cakupan ASI eksklusif, semua fasilitas pelayanan kesehatan maternal di Indonesia berupaya menerapkan 

10 LMKM (Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui).

 

Program PMBA (Pemberian Makan pada Bayi dan Anak) di Kabupaten Klaten pada awalnya merupakan

Program Tanggap Darurat , yang dilakukan secara berkala sejak tahun 2007 sebagai upaya

untuk mengatasi dampak diare pada anak-anak di bawah usia dua tahun yang menerima sumbangan

susu formula saat gempa dahsyat di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada bulan Mei 2006. Program ini kemudian

berkembang menjadi sebuah program rutin yang berkelanjutan, khususnya pada program pelayanan

kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Klaten. Strategi program tersebut meliputi peningkatan

kapasitas (pelatihan), advokasi, komunikasi dan memperkuat sistem kesehatan.

 

Pelatihan konseling menyusui secara berkala dilakukan sejak tahun 2006  sehingga di Klaten telah mempunyai

15 fasilitator, 409 konselor dan 1,257 motivator yang secara rutin memberikan konseling kepada ibu hamil

dan menyusui, juga para suami mereka, di posyandu, pada saat kunjungan rumah,di puskesmas, di praktik swasta,

dan di rumah sakit. Pemerintah Kabupaten Klaten telah mengembangkan dan mengeluarkan Peraturan Daerah

(Perda) No. 7/2008 untuk mendukung pemberian ASI. Perda tersebut memaparkan pentingnya inisiasi menyusu dini

dan pemberian ASI eksklusif, dan mewajibkan semua petugas kesehatan untuk menciptakan lingkungan yang

mendukung kedua praktik tersebut. Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten bekerja sama dengan berbagai media massa

melakukan sosialisasi mengenai pentingnya ASI sebagai upaya untuk memperkuat pesan yang telah disampaikan

oleh petugas kesehatan kepada para ibu. Program Kawal ASI juga diterapkan di semua puskesmas.

Dalam Program ini diperkenalkan 8 kontak antara petugas kesehatan (konselor) dengan para ibu, yang dimulai

dengan konseling pranikah. Sedangkan 7 kontak berikutnya terjadi saat kehamilan dan setelah persalinan,

guna mendukung para ibu untuk memberikan ASI. Program Kontak maupun 10 LMKM dilaksanakan baik

di puskesmas maupun RSSIB (RS Islam Klaten ditetapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan Laktasi sejak tahun 2009).

 

Kesadaran dan komitmen dari pemerintah daerah serta instansi terkait merupakan kunci keberhasilan PMBA

dan 10 LMKM di Kabupaten Klaten. Data rutin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten menunjukkan bahwa

angka cakupan pemberian ASI eksklusif telah meningkat 2007: 22,7%, 2008:43,4%, 2009:60,2%, 2010:73,3%

bahkan setelah erupsi Merapi 2.011 : 77,2%.

 

 

Jumlah Kunjungan

000930372
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
51
654
4464
920870
10877
22777
930372

Your IP: 54.242.205.33
2017-12-16 01:14

Survey

Survey Pelanggan Rumah Sakit Islam Klaten

We have 16 guests and no members online